The Battle Of La Drang - Ketika Tentara AS Di Kepung Pasukan Komunis Vietnam
Sejarah
Sekitar 40 menit kemudian setelah mendarat, tanpa peringatan apapun, pasukan Vietnam Utara tiba-tiba meluncurkan serangan dadakan, mereka bersembunyi di rerumputan gajah yang tinggi dan di balik pepohonan. Serangan begitu brutal dan membuat pasukan AS sempat kocar-kacir. Satu peleton AS dipancing ke dalam perangkap dan dikepung, setelah beberapa saat kemudian pasukan Vietnam Utara menunda serangan berulang meskipun banyak kepala peleton dan beberapa bintara AS telah tewas.
Setelah dua hari serangan tentara Vietnam Utara yang sangat intens dan korban mulai terus berjatuhan, Let. Kol Moore melalui radio menyerukan kode sandi "Broken Arrow," sebuah kode sandi darurat yang meminta semua pesawat yang tersedia untuk menyelamatkan unit pasukan Amerika yang dibanjiri oleh serbuan pasukan musuh. Sandi ini segera direspon dengan serangan udara yang membombardir untuk membongkar pengepungan tentara Vietnam Utara dan memungkinkan bala bantuan untuk mencapai zona landing tersebut.
Moore dan batalionnya dievakuasi di hari berikutnya, pada tanggal 17 November, sebuah unit pasukan dari Batalion ke-2, Kavaleri ke 7, diperintahkan untuk bergerak dari zona landing X-Ray menuju zona landing Albany yang berada beberapa mil jauhnya. Tak lama setelah batalion ini diperintahkan untuk bergerak, Vietnam Utara tiba-tiba kembali menyergap secara besar-besaran. Hampir 70 persen dari tentara batalion yang sedang melakukan perjalanan itu tewas atau terluka sebelum serangan udara, artileri dan bala bantuan tiba dan menghantam pasukan Vietnam Utara di dekat Kamboja. Dan peristiwa ini menjadi hari paling berdarah dari seluruh pertempuran yang dilalui militer AS di Vietnam. Di antara yang selamat dari serangan itu adalah Letnan 1 Rick Rescorla, seorang pemimpin pleton yang meninggal pada tragedi WTC 11 September 2001, ia terakhir terlihat menyelamatkan orang-orang dari menara selatan World Trade Center hingga bangunan itu runtuh.
Namun, pihak Vietnam Utara dan gerilyawan Viet Cong menderita korban yang bahkan jauh lebih besar dari tentara Amerika, mereka menghadapi senapan mesin helikopter tempur dan pesawat B-52s yang menghujani mereka dengan bom, peluru dan napalm. Seorang wartawan muda dari United Press International, Joseph Galloway, menjadi satu-satunya sipil yang berada di dalam peperangan ini, ia dianugerahi Bronze Star "V" untuk keberaniannya membawa tentara yang terluka dari medan perang meskipun harus menghadapi hujan peluru yang ditembakkan oleh pasukan utara.
Jenderal Westmoreland, seorang veteran Perang Dunia II di Eropa, menyatakan, kemenangan pertempuran Ia Drang karena pasukan Vietnam Utara berhasil diusir dari area terbuka itu setelah menderita jumlah korban yang besar. Ancaman pasukan komunis di dataran tinggi tengah memang mereda. Kerugian dalam peristiwa Ia Drang memaksa Vietnam Utara untuk memikirkan kembali rencana mereka untuk menghadapi pasukan AS secara frontal, dengan formasi konvensional, untuk kembali memakai taktik Hit and Run dimana serangan udara AS dan kekuatan artilerinya kurang efektif.
VIDEO DOKUMENTER PERTEMPURAN LA DRANG
Korban tewas di pihak Amerika sendiri cukup mengejutkan Presiden Lyndon Johnson, yang segera mengirim Menteri Pertahanan Robert McNamara ke Saigon untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. McNamara mengatakan kepada Johnson bahwa AS bisa melanjutkan keterlibatan di perang ini secara terbatas atau langsung melakukan perang besar-besaran dengan ratusan ribu pasukan. Namun dalam setiap pilihan, ia memperingatkan tetap memiliki celah yang mengarah ke jalan buntu.
Tetapi Jenderal Westmoreland lebih yakin pada taktik pertempuran yang divalidasi dengan taktik serangan cepat airmobile untuk menghancurkan pasukan musuh yang lengah, membunuh sebanyak mungkin dan kembali ke markas. Idenya adalah untuk membunuh musuh, namun belum tentu untuk bertahan di darat, idenya hanya untuk tetap membuat pasukan Vietnam Utara lelah dan berhenti berperang. Masalahnya adalah, taktik itu hanya bisa diterapkan oleh suatu negara yang jauh lebih bersedia untuk melakukannya dalam jangka panjang. Masalah terbesar Westmoreland dengan strateginya adalah bahwa dia pikir itu akan berhasil dalam dua atau tiga tahun, namun sebenarnya akan mengambil masa 10 atau bahkan 12 tahun.
Berhenti adalah rencana yang efektif untuk memenangkan pertempuran dimana penduduk sipil terus menerus terjebak dalam baku tembak, kata James Willbanks, seorang veteran Vietnam yang sekarang menjadi direktur dari Departemen Sejarah Militer di AS Komando Angkatan Darat dan General Staff College. "Ketika anda keluar dan membunuh 1.700 NVA (North Vietnam Army), jika anda melakukannya di tempat terpadat, maka anda menciptakan lebih banyak gerilyawan," katanya.
Di Hanoi, kepemimpinan Vietnam Utara memang sudah siap untuk segala kemungkinan kerugian yang sangat besar. Pada tahun 1946, Ho Chi Minh telah memperingatkan pihak Perancis yang mencoba untuk mengembalikan kontrol atas mantan wilayah protektorat mereka, ia berkata; "Anda bisa membunuh 10 anak buah saya untuk satu anak buah anda yang saya bunuh, namun pada waktunya, anda akan kalah dan saya akan menang." Dia berasumsi seperti yang di alami Perancis, bahwa Amerika akan bosan melihat anak laki-laki mereka pulang ke rumah dalam kantung mayat.
Di Washington, peristiwa Ia Drang meyakinkan presiden Johnson bahwa perang berdarah ini akan semakin panjang. Sementara Jenderal Westmoreland merekomendasikan untuk mengirim lebih banyak tentara ke Vietnam, namun Johnson dan penasihatnya pribadinya masih mempertanyakan prospek kemenangan.
Sejarah mencatat di akhir perang Vietnam, pasukan komunis utara berhasil memenangkan perang, dan AS beserta pendukung lokalnya dipaksa untuk meninggalkan negara tersebut, sementara masih ada ribuan pasukan AS yang tertangkap dan berada dalam penjara-penjara menyedihkan di tengah hutan dalam pengawasan pasukan komunis yang bahkan sebahagian besarnya tidak pernah kembali meski perang telah usai. Vietnam hanyalah salah satu dari area perang terbuka melawan komunisme, sementara disisi lain AS dan mujahidin Afganishtan berhasil memenangkan peperangan melawan komunis Uni Sovyet, ditambah dengan ladang tempur melawan komunisme di Korea yang membuat negara itu terbelah menjadi dua bagian, dimana Korea Utara menjadi negara republik komunisme di bawah dukungan China dan Rusia, dan Korea Selatan menjadi negara nasionalis tersendiri. Demikianlah, semoga tulisan sejarah ini dapat bermanfaat bagi anda, dan Wassalamualaikum.
|